01 Februari 2014

Miracle Valley

6 komentar
Miracle Valley
by EsideAra


 “Tunggu!” Sayup-sayup terdengar suara perempuan memanggilku dari kejauhan.
            Aku berdiri mematung. Bergeming. Kurasakan detak jantungku yang tak beraturan. Aku berusaha keras mengosongkan pikiran. Kupejamkan mata dan kutumpulkan pendengaran. Perlahan kucondongkan tubuh ke depan.
            “Aku bilang tunggu!” Suara tadi terdengar lebih jelas, dilatar-belakangi suara derap langkah kaki yang menuju ke arahku.
            Lagi-lagi aku merasa bimbang. Suara ini benar-benar mengusik pikiranku. Membuyarkan semua tekadku. Meski begitu aku tidak mau kalah. Aku mulai bersiap mencondongkan tubuh lagi ketika kurasakan seseorang menarikku dengan kuat dari belakang.
            “Tunggu! Aku ingin mati bersamamu…!”
~o0O0o~
Aku menatap sendu lelaki jangkung yang berdiri di hadapanku. Raut wajahku sengaja kubuat memelas. Namun ia diam saja. Ekspresi wajahnya pun tetap sama. Dingin dan keras kepala. Kami berdua membisu. Hanya saja kedua pasang bola mata kami terus beradu pandang untuk waktu yang terasa cukup lama.
Jika ada orang yang melihatnya, mungkin orang tersebut mengira kami berdua adalah sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Diterangi sinar bulan purnama dan gemerlapnya cahaya bintang, tempat ini benar-benar romantis. Cocok untuk pasangan yang tengah saling jatuh cinta.
Namun sayangnya, kami berdua bukan pasangan kekasih. Boro-boro jadi sepasang kekasih, kenal saja tidak. Bertemu juga baru beberapa menit yang lalu. Itupun gara-gara hal yang bisa dibilang ajaib.
Semuanya berawal dari perjalanan nekatku ke lembah ini. Perjalanan yang sengaja kulakukan seorang diri tanpa seorangpun tahu. Sepi memang. Tapi aku tak punya pilihan lain. Aku merasa tak ada seorangpun yang memahamiku dan pastinya juga tak ada yang bersedia untuk kujadikan teman seperjalanan. Meski demikian, hati kecilku terus berdoa. Berharap akan menemukan teman di tengah perjalanan panjangku.
Ketika hari masih terang, lembah ini tampak begitu indah. Aku bahkan tak merasa begitu kesepian karena sinar mentari senantiasa mengiringiku disetiap langkah. Tapi saat hari mulai gelap, lembah ini terkesan misterius. Langit dengan kuasanya melenyapkan sinar matahari yang menemaniku sepanjang hari. Bulan purnama tampak pucat memancarkan sinar keperakan yang sesekali tampak redup tertutup awan tipis. Angin berbisik lirih diantara padang ilalang di lembah sungai. Suaranya begitu lembut hingga menimbulkan nuansa beku yang membuat bulu kudukku meremang.
            Rasanya seram juga malam-malam begini berjalan sendirian di tengah lembah yang hampir tak berpenghuni. Tapi mau kembali pun rasanya sayang. Sudah kepalang tanggung. Aku sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan untuk mencapai tempat ini. Konyol rasanya jika harus kembali gara-gara takut dengan hal-hal mistis yang belum jelas keberadaannya. Apalagi sebentar lagi mungkin aku akan bergabung dengan mereka di tempat ini.
 “Tunggu!” spontan aku berteriak ketika dari kejauhan kulihat sesosok bayangan yang diterangi cahaya rembulan. Aku tidak yakin apakah itu manusia atau bukan. Tapi hatiku masih terus berharap akan menemukan teman seperjalanan. Aku memicingkan mata agar dapat melihat sosok itu lebih jelas. Jika mataku tidak salah lihat, sosok itu seorang lelaki. Dan lelaki itu sedang melakukan sesuatu yang menarik perhatianku. Membuatku merasa tidak sendirian lagi.
“Aku bilang tunggu!” Aku berusaha berteriak lagi sekeras-kerasnya berharap lelaki itu mendengarnya. Suaraku bahkan bergaung di tengah lembah. Namun lelaki itu bergeming. Aku mulai menduga dia memang sengaja menulikan pendengarannya. Tanpa pikir panjang aku berlari kearahnya. Berharap aku belum terlambat untuk mencegahnya mendahului aku.
 Aku terus berlari sekencang-kencangnya. Tak memedulikan ujung kakiku yang sakit bukan kepalang akibat terantuk batu. Tak memedulikan langkahku yang mulai terseok-seok kepayahan. Bahkan aku merasa tak perlu repot meneliti jalan terjal berbatu yang aku lalui. Mataku terus terpancang ke sosok itu, tak mau ia hilang ditelan gelapnya malam.
Hampir saja aku menyerah kalah ketika lagi-lagi lelaki itu mencondongkan tubuhnya. Namun detik berikutnya aku merasa harus terus berpacu dalam langkahku. Lelaki itu tak menunjukkan pergerakan baru. Nampaknya ia mulai bimbang. Inilah kesempatanku untuk menggapainya. Kupercepat laju lariku.
            “Tunggu! Aku ingin mati bersamamu!” Aku mengerahkan segenap tenagaku dan menarik tubuhnya dengan kuat. Ingin menjauhkan tubuhnya dari tepian tebing. Namun tentu saja usahaku tak membuahkan hasil. Tubuhnya jauh lebih kekar dibandingkan aku. Saat ini aku bahkan tak tampak seperti sedang mencoba menariknya kebelakang. Mungkin yang terjadi sekarang, justru seperti aku yang sedang memeluknya dari belakang.
Aku merasakan tubuh lelaki itu tersentak. Mungkin ia terkejut mendapat serangan tak terduga di tengah malam seperti ini. Ia menoleh ke arah punggungnya. Ketempat aku berada. Tubuhku serasa lunglai begitu ia menatap mataku. Tatapannya begitu dingin dan hampa.
Aku jatuh terduduk di tanah. Kami hanya terdiam. Saling bertatapan mata.
~o0O0o~
            “Apa maumu?” Seuntai suara yang hanya terdengar seperti bisikan akhirnya keluar dari tenggorokanku.
            Raut wajah gadis itu tampak memelas. Awalnya aku pikir dia hantu. Tapi sepertinya bukan. Jika memang gadis ini hantu, harusnya dia punya paras yang cantik rupawan. Atau seharusnya jika jelek, jelek sekalian. Tapi tidak dengan gadis ini. Wajahnya biasa saja. Dan aku rasa tidak ada hantu yang mukanya biasa saja.
            “Aku ingin mati bersamamu,” sahutnya menatap lurus ke arah mataku. Sepertinya dia tidak main-main dengan ucapannya barusan. Hanya saja aku tidak paham apa yang dia maksud. Aku bahkan tak mengenalnya, kenapa ia ingin mati bersamaku. Kukira tadinya ia hanya ingin mencegahku melompat.
            “Jangan bercanda,” sergahku sambil menyeringai. Bahkan di telingaku sendiri, suaraku terdengar begitu sinis.
            Gadis itu menggigit bibir bawahnya dan menunduk ke tanah. Sepertinya ia sedang menahan tangis. Aku menyesal kenapa harus berkata sinis kepadanya. Tapi meski demikian, aku juga tidak dapat meralat kata-kata yang terlanjur keluar dari mulutku.
            “Dengar ya, aku tidak paham lelucon macam apa yang sedang kamu mainkan. Tapi apa kamu benar-benar paham kata-kata yang kamu ucap barusan?”
            “Aku tidak bercanda,” sela gadis itu dengan diiringi isak tangis.
Benar-benar cengeng. Ataukah aku yang tampak begitu menakutkan di matanya hingga ia menangis seperti itu?
            “Aku benar-benar ingin mati,” tambahnya di sela isak tangis. “Menurutmu untuk apa seorang gadis sepertiku datang kesini sendirian malam-malam begini?”          Aku memandangi gadis ini dengan tatapan tak percaya. Penjelasannya tadi terasa semakin membingungkan saja. Kalau mau mati, mati saja. Untuk apa dia justru mencegahku mati duluan. Apa dia ingin aku jadi penonton yang menyaksikannya terjun ke jurang? Atau dia ingin aku yang mendorongnya jatuh ke jurang?
            “Kenapa kau ingin mati bersamaku?” tanyaku kali ini berusaha lebih lembut agar tak menyinggung perasaannya.
            Dia terdiam sejenak, lagi-lagi menggigit bibir bawahnya. Sepertinya ragu ingin mengatakan sesuatu. Mungkin sesuatu yang terdengar memalukan jika diungkapkan. Ekspresi wajahnya menunjukkan demikian.
            “Aku takut mati sendirian.”
~o0O0o~
Sikap dinginnya perlahan meleleh. Matanya mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan ketika dia bertanya banyak hal padaku. Kadang ia nampak kesal dengan jawabanku. Kadang ia menatapku seolah aku ini makhluk aneh. Tapi itu masih lebih baik daripada tatapan dingin dan hampa yang ia tunjukkan sebelumnya. Jujur, aku benar-benar merasa takut.
“Aku tahu tempat ini dari sebuah situs di internet…”
Aku mulai menceritakan awal mula kedatanganku ke tempat ini. Air mataku kini telah mengering. Itu membuatku bisa bercerita dengan lebih leluasa.
“Saat itu aku benar-benar putus asa. Aku ingin segera pergi meninggalkan dunia yang keji ini. Hanya saja… aku berpikir untuk melakukannya di tempat yang indah. Aku mengetikkan keyword “tempat terindah untuk mati” di Google. Mungkin terdengar konyol. Awalnya aku tak menyangka akan mendapat jawaban dari internet. Aku sangat tekejut ketika menemukan ternyata memang ada tempat seperti itu… di sini,” aku mengarahkan jari telunjukku ke tanah kosong tepat di hadapanku.
“Ajaib bukan?” tambahku. “Mungkin di luar sana ada orang yang berpikiran sama denganku. Itu membuatku merasa tidak sendirian lagi.”
Aku menoleh ke arah lelaki itu. Ia tak memandang ke arahku tapi aku tahu dia mendengarkan ceritaku. “Bagaimana denganmu?”
“Aku hanya berjalan. Aku terus berjalan dan ketika aku sadar aku sudah berada di tempat ini,” ujarnya tanpa emosi. Aku merasa lagi-lagi ia hanyut dalam pikirannya sendiri.
“Kau tahu. Mungkin kedengarannya konyol aku berkata seperti ini. Tapi jika ada orang yang masih membutuhkanmu, kau tidak boleh meninggalkannya begitu saja. Dia akan merasa sangat sedih dengan kepergianmu.”
Ia menoleh ke arahku. Lagi-lagi dengan tatapan sinisnya. Kelihatannya usia kami sebaya dan bahkan mungkin ia lebih tua dari aku. Jadi wajar saja ia tidak terima dengan perkataanku yang terkesan menggurui. Apalagi dengan kondisiku sekarang yang tak jauh berbeda dengannya.
“Kau berkata demikian, seolah-olah kau orang yang paling berhak untuk mati. Sementara orang lain tidak berhak untuk itu,” sergahnya sinis.
“Kau benar. Aku merasa berhak untuk mati.”
~o0O0o~
            “Mengapa kau bisa berpikir seperti itu?” tanyaku tak sabar. Mengapa ia merasa yakin berhak untuk mati. Aku yakin penderitaan yang dialaminya tak sebanding dengan apa yang aku rasakan.
“Aku tinggal sebatang kara. Tak ada satupun keluarga, kerabat, bahkan aku tak punya teman untuk mendengar keluh kesahku,” ujarnya dengan pilu.
            Kurasakan dorongan untuk membelai kepalanya dan membuatnya merasa nyaman. Aku hanya ingin ia tahu bahwa ia tak sendirian. Tapi aku urungkan niatku. Aku tahu tak boleh terbawa suasana. Itu hanya akan memperkeruh keadaan. Kuputuskan untuk diam menanti dia melanjutkan ceritanya.
            “Setahun lalu, aku beserta keluargaku mengalami kecelakaan tragis. Tak ada satupun anggota keluargaku yang selamat, kecuali aku. Ketika tersadar dari koma, aku tinggal sebatang kara. Tak ada siapapun orang yang aku kenal. Dunia ini terasa begitu berbeda.”
Ia menghela nafas panjang. Tatapannya menerawang dan ia pun mulai terisak lagi.
            “Aku mulai masuk sekolah dengan harapan bisa bertemu dengan teman-teman yang kurindukan. Sayangnya aku terlambat menyadari sesuatu, aku duduk di kelas 3 dan aku mengalami koma hampir setahun. Itu artinya teman-teman lamaku sudah lulus dan aku harus mengulang setahun bersama adik kelasku. Aku merasa bagai orang yang terlempar ke dunia asing. Tak ada seorangpun yang aku kenal. Bahkan aku merasa semua orang mengucilkanku. Rasanya benar-benar sepi terhanyut dalam kesendirianku. Jika boleh memilih… aku akan memilih untuk terus tertidur dan tak pernah terbangun lagi.”
Aku memandangnya tajam. Kurasa dia tidak berhak berkata seperti itu.
“Kamu ini masih muda. Masa depan masih membentang luas. Tidak seharusnya kamu berkata seperti itu. Jika kamu tidak punya teman, maka kamu bisa mencarinya mulai dari sekarang,” ujarku panjang lebar. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku berkata seperti ini. Tidak tepat rasanya jika aku yang mengatakannya.
“Bagaimana denganmu?” tuntutnya.
Aku terdiam sejenak. Sebenarnya enggan untuk menceritakan masalahku tapi itu akan terasa tidak adil baginya.
“Hidup tidak pernah berpihak padaku. Aku selalu berusaha keras untuk mencapai sesuatu, tapi semua jerih payahku seakan sia-sia.”
~o0O0o~
Aku menatapnya tajam. Merasa tidak puas dengan penjelasan yang ia berikan. Ia menghela nafas sebelum melanjutkan.
“Sejak kecil aku tidak pernah mendapatkan apapun yang aku inginkan. Aku punya seorang kakak lelaki. Kami kembar tapi dia lebih sempurna, mulai dari sikap, bakat dan kecerdasan semuanya lebih unggul dariku. Dia benar-benar beruntung. Kasih sayang kedua orang tuaku seolah tercurah hanya untuk dirinya. Aku bahkan merasa yakin mereka lupa punya anak lelaki lain. Aku sangat bodoh dan tidak berbakat. Sekeras apapun aku berusaha tak pernah ada hasilnya.”
Seolah penjelasannya tadi belum cukup, ia terus melanjutkan. “Barang yang aku inginkan selalu dengan mudah didapatkan kakakku. Gadis yang aku cintai ternyata mencintai kakakku. Sahabat yang aku banggakan lebih berpihak pada kakakku. Bahkan Universitas yang ingin aku masuki untuk membanggakan kedua orang tuaku, dengan mudah di masuki kakakku. Sementara aku terdepak, tertinggal di belakang tanpa seorang pun yang menyadari. Aku selalu bertanya-tanya untuk apa sebenarnya aku dilahirkan ke dunia ini. Semua alasanku untuk hidup seolah telah terhisap oleh lubang hitam yang dimiliki kakakku.”
Hatiku terasa pedih ketika ia menatapku dengan sorot mata itu. Sorot mata yang seolah ingin menyatakan pada dunia bahwa ia tak bersalah… bahwa ia tak tahu apa sebenarnya kesalahannya hingga mendapat perlakuan tidak adil dalam hidupnya.
“Jika boleh memilih… aku memilih untuk tidak pernah dilahirkan.”
Aku menatapnya tajam. Kurasa sama persis dengan tatapan yang ia lontarkan tadi. Dan sekarang aku tahu apa alasan dia melontarkan tatapan itu padaku. Aku merasa dia tidak berhak berkata seperti itu.
“Jika kau tak pernah dilahirkan, maka aku tak akan pernah bertemu denganmu. Aku tak akan sebimbang ini memutuskan apakah aku berhak untuk mati atau tidak!?” jeritku dalam tangis yang histeris. Aku tak tahu kenapa. Tiba-tiba saja aku merasa takut kehilangan. Aku takut ditinggalkan sendirian lagi.
“Kumohon. Jangan berpikir seperti itu!” jeritku lagi.
Aku membenamkan wajahku diantara kedua telapak tanganku. Air mataku terus bercucuran tak mau berhenti.
~o0O0o~
Aku menatap gadis di hadapanku dengan bingung. Hatiku tersentuh melihatnya menangis. Seolah ia menangis mewakili seluruh kegundahan yang ada di dalam hatiku. Ini untuk pertama kalinya ada seseorang yang menangis untukku. Untuk pertama kalinya juga, aku melihat seorang gadis menangis di hadapanku. Hingga aku merasa bingung, tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkannya.
Kali ini aku tak berusaha menekan dorongan dalam hati. Aku mendekati gadis itu dan memeluknya. Ia menangis semakin keras di bahuku. Untuk beberapa saat aku terdiam, membiarkannya menumpahkan semua tangis dan perasaannya di bahuku.
“Sama halnya denganku. Jika kau tidak pernah bangun dari tidurmu. Maka aku tak akan pernah bertemu gadis yang membuatku sadar untuk apa sebenarnya tujuanku dilahirkan,” bisikku dengan lembut di telinganya ketika ia mulai tenang.
Ia tak menjawab. Masih terdengar sesenggukan sesekali.
“Mungkin tujuanku dilahirkan dan tujuanmu bangun dari tidur panjangmu adalah untuk menyongsong hari ini. Hari bersejarah dimana kita bertemu dan memutuskan apakah kita berhak untuk mati,” ujarku sambil tersenyum kecil, mengingat betapa ironisnya kisah pertemuan kami.
“Atau memutuskan apakah kita berhak untuk hidup,” tambahnya sambil mendongakkan wajah menatapku, matanya melebar dan ia tersenyum kecil.
Aku baru menyadari mata gadis ini sangat indah, tampak begitu bening dan bercahaya. Saat ia tersenyum muncul lesung pipi kecil di sudut-sudut bibirnya. Senyumnya menular dan membuatku ingin ikut tersenyum bersamanya. Gadis di hadapanku ini tiba-tiba saja menjelma menjadi gadis yang sangat cantik di mataku. Tampak rapuh dan mempesona di saat yang bersamaan. Membuatku ingin terus berada disampingnya dan menjaganya. Selamanya.
~o0O0o~
Aku mendongak menatap lelaki yang tengah memelukku erat. Tatapan mata bekunya telah meleleh. Raut wajah kakunya telah melembut. Ia tersenyum hangat saat membalas senyumku. Entah kenapa aku tak ingin lepas dari pelukannya. Lelaki yang tadinya terasa begitu dingin dan sinis kini menjelma menjadi lelaki yang hangat dan lembut. Membuatku ingin terus berada di sampingnya, menangis dan tertawa untuknya. Selamanya.
Kami berdua sepakat. Tak ada satupun yang berhak untuk memutuskan siapa yang berhak untuk hidup ataupun mati.
Kami pun akhirnya menyadari. Jalan hidup kami telah digariskan. Satu-satunya hal yang berhak kami lakukan adalah menyusuri jalan yang telah digariskan itu.

~o0O0o~

Image Source: Unknown (nemu di hardisk ^^)

01 Januari 2014

Hangang River Love Story

0 komentar
Hangang River Love Story
by Halona Mio


“Nae yeoja chinguga dwae jullae1?” tanya Kang Min Hyuk dengan tatapan penuh harap kepada gadis yang berdiri di hadapannya.
Min Hyuk terdiam beberapa saat karena gadis itu tak langsung menjawab. Gadis itu mencoba menghindari tatapan Min Hyuk dengan menundukkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke permukaan air Sungai Han yang memantulkan cahaya mentari senja berwarna kuning kemerahan. Merasa tak sanggup lagi menyembunyikan kekecewaan yang mulai terpancar di raut wajahnya, ia memutuskan untuk membalikkan badannya membelakangi Min Hyuk.
 “Ani2,” desah gadis itu memberikan jawaban singkatnya. Tanpa mengucapkan apapun lagi, ia melangkah pergi meninggalkan Min Hyuk tanpa sekalipun menoleh ke belakang
Min Hyuk terpaku menatap kepergian gadis itu. Lidahnya terasa kelu, hingga tak sanggup memanggil gadis itu untuk memintanya kembali. Tubuhnya terasa kaku, hingga tak sanggup berlari mengejar gadis itu. Hatinya terasa sesak, seperti tertimpa gundukan tanah setinggi bukit. Ia sama sekali tidak menyangka akan menerima penolakan seperti ini.
Selama beberapa saat, Min Hyuk berdiri mematung dengan pikiran kosong, hingga akhirnya ia teringat sesuatu. Ia berbalik ke belakang dan menghampiri teman-temannya yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Di hadapan mereka, Min Hyuk memaksakan diri untuk tersenyum dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Ia merasa sangat malu hingga tak sanggup untuk mengakui kepada mereka kalau saat ini hatinya benar-benar hancur.
~o0O0o~
Lee Soo Young diam-diam memandangi Min Hyuk yang sedang asyik mengobrol dengan teman sekelasnya. Min Hyuk sama sekali tidak menyadari kalau sejak tadi Soo Young terus memperhatikannya. Min Hyuk tampak ceria seperti biasa.
Soo Young menghela nafas panjang dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela untuk menatap birunya langit. Ia berusaha menenangkan dirinya, karena saat ini ia merasa tersiksa dengan sikap Min Hyuk kepadanya. Meskipun ia merasa sedikit bersalah pada Min Hyuk, tapi sekarang ia merasa benar-benar kesal. Sejak hari itu, Min Hyuk benar-benar mengabaikannya. Min Hyuk tak pernah menghubunginya lagi, bahkan saat mereka berpapasan Min Hyuk hanya diam saja. Soo Young benar-benar tidak mengerti apa yang sedang ada di dalam pikiran Min Hyuk.
~o0O0o~
Min Hyuk mencuri pandang ke arah Soo Young sambil mengobrol dengan teman dekatnya. Soo Young terlihat sedang duduk melamun dan menatap ke luar jendela.
Sudah 3 bulan berlalu sejak hari itu, tapi sampai sekarang Min Hyuk masih belum bisa melupakan Soo Young. Min Hyuk merasa frustasi memikirkannya, ia benar-benar tidak menyangka kalau akhirnya harus seperti ini. Ia masih sering memikirkan Soo Young dan selalu teringat saat-saat menyenangkan yang ia lalui bersama Soo Young.
Min Hyuk mulai dekat dengan Soo Young sejak awal liburan musim panas lalu. Mereka berdua tidak sengaja bertemu di sebuah taman dekat rumah mereka. Saat itu mereka baru menyadari kalau jarak di antara rumah mereka cukup dekat. Mereka berdua mulai mengobrol dan menemukan banyak kecocokan. Sejak itu mereka jadi sering bertemu dan menghabiskan waktu berdua.
Min Hyuk memutuskan untuk menyatakan cintanya pada Soo Young saat liburan musim panas berakhir. Ia sangat yakin kalau Soo Young akan menerimanya karena ia merasa Soo Young juga memiliki perasaan terhadapnya. Tanpa pikir panjang ia mengajak teman-temannya untuk menyaksikan pernyataan cintanya pada Soo Young. Min Hyuk ingin teman-temannya tahu bahwa gadis yang sudah ia sukai sejak awal semester sekarang bisa jadi miliknya. Min Hyuk hanya bisa menghela nafas mengingat kejadian setelah itu.
“Hei, dengerin aku ngomong nggak sih!” kata Yong Jae merasa kesal karena merasa diabaikan oleh Min Hyuk.
“Eh, kenapa? Kamu tadi ngomong apa? Aku lagi ngantuk nih, semalam kurang tidur,” kata Min Hyuk pura-pura menguap dan meregangkan tangannya.
“Kurang tidur? Kenapa?” tanya Yong Jae menatapnya dengan penasaran.
“Ah, nggak apa-apa kok. Kamu tadi ngomongin apa?” tanya Min Hyuk mengalihkan pembicaraan. Mana mungkin dia bilang ke Yong Jae kalau semalam dia tidak bisa tidur gara-gara terus memikirkan Soo Young.
“Aku mau nyatain perasaanku ke Soo Young,” kata Yong Jae dengan wajah gembira.
“Apa?” Min Hyuk tidak sadar menaikkan nada suaranya karena tidak dapat menutupi keterkejutannya. Yong Jae jadi ikut terkejut melihat reaksi Min Hyuk.
“Kenapa? Bukannya kamu udah nggak suka lagi sama Soo Young?” kata Yong Jae dengan tatapan menyelidik.
“Ah, udah pasti lah. Aku cuma kaget tiba-tiba kamu bilang pengen nyatain perasaanmu,” kata Min Hyuk mencoba menutupi perasaannya.
“Aku juga nggak ngerti. Akhir-akhir ini dia kelihatan tambah cantik, bikin aku jadi tambah suka sama dia. Pokoknya aku harus cepat nyatain perasaanku, aku nggak mau sampai keduluan cowok lain,” kata Yong Jae terlihat sungguh-sungguh.
“Terus, kapan rencananya kamu bilang ke dia?” tanya Min Hyuk mulai cemas.
“Sabtu malam nanti aku mau ngajak dia makan malam, abis itu rencananya aku mau ajak dia jalan-jalan di tepi Sungai Han buat nyatain perasaanku. Gimana menurutmu?” tanya Yong Jae meminta pendapat Min Hyuk.
“Ah, pasti dia suka,” kata Min Hyuk mendesah pasrah, teringat saat terakhirnya bersama Soo Young di tempat itu.
“Apa menurutmu dia bakal nolak aku juga?” Yong Jae mulai memasang raut wajah yang terlihat cemas karena ia tahu Min Hyuk ditolak di tempat itu. “Tapi kayaknya enggak sih, aku rasa dia juga suka sama aku,” kata Yong Jae menyemangati dirinya sendiri.
Setelah itu Yong Jae mulai bicara kesana kemari sambil tersenyum-senyum nggak jelas. Min Hyuk hanya pura-pura mendengarkan sambil sesekali menanggapi namun sebenarnya ia sudah tidak fokus dengan apapun yang dibicarakan Min Hyuk.
“Semoga aja Soo Young nolak kamu juga,” batin Min Hyuk menenangkan dirinya sendiri, meskipun ia mulai merasa tidak yakin.
Sebenarnya Min Hyuk tahu kalau selama 2 bulan terakhir ini Yong Jae terus berusaha mendekati Soo Young. Tapi dia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan Yong Jae. Min Hyuk menyesali sikapnya yang kekanak-kanakkan. Padahal Soo Young sudah berusaha bersikap baik dan meminta maaf padanya, tapi ia terus berusaha mengindari Soo Young.
Min Hyuk sadar selama ini ia hanya membohongi perasaannya sendiri, sampai saat ini ia masih menyukai Soo Young. Sekarang, ia mulai dilanda perasaan cemas karena takut kalau ternyata Soo Young juga menyukai Yong Jae. Ia masih merasa tidak rela jika Soo Young harus bersama cowok. Akhirnya Min Hyuk memiliki rencana bodoh untuk mengikuti Soo Young dan Yong Jae di hari Sabtu malam.
~o0O0o~
            Pemandangan Sungai Han pada malam itu sangat indah. Suasana romantis dipancarkan dari sorotan lampu yang menawan. Di sana terdapat air mancur raksasa yang menimbulkan warna-warna seperti pelangi, membuat suasana malam itu semakin mempesona.
Soo Young dan Yong Jae melangkah perlahan menyusuri tepian Sungai Han sambil bersenda gurau. Sementara itu, tidak jauh dari sana Min Hyuk mengawasi gerak gerik mereka berdua. Hatinya terasa sakit melihat kedekatan mereka berdua. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa ia malah menyiksa dirinya sendiri dengan melakukan hal bodoh seperti ini.
            Min Hyuk merasa bimbang menentukan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya. Semakin lama berpikir, ia jadi semakin merasa resah. Ia takut jika terlalu lama berdiam diri seperti ini maka semuanya akan terlambat. Akhirnya tanpa berpikir panjang lagi dia bergegas menyusul Yong Jae dan Soo Young.
~o0O0o~
Soo Young tersentak kaget ketika tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang dari belakang. Ia sangat terkejut ketika menoleh dan melihat orang yang menarik tangannya ternyata adalah Min Hyuk.
“Aku pinjam dia dulu sebentar,” kata Min Hyuk tanpa pikir panjang lagi . Tanpa menunggu jawaban dari Yong Jae, ia segera menarik tangan Soo Young untuk meninggalkan tempat itu.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Min Hyuk terus berjalan menggandeng Soo Young. Min Hyuk sibuk memikirkan apa yang akan di lakukannya setelah ini. Ia hanya mencoba membawa Soo Young pergi menjauh dari Yong Jae tanpa benar-benar tahu harus pergi kemana.
Soo Young yang sedari tadi hanya diam dan tidak melawan, mulai merasa tidak sabar. Ia bertanya-tanya kemana sebenarnya Min Hyuk akan membawanya pergi. Sedari tadi mereka berdua cuma berputar-putar di sepanjang tepian Sungai Han.
“Berhenti. Sebenarnya kamu mau membawaku kemana?” tanya Soo Young sambil berusaha melepaskan genggamannya dari tangan Min Hyuk.
Min Hyuk berhenti berjalan dan melepaskan tangan Soo Young. Ia baru menyadari kalau Soo Young merasa kesakitan karena sejak tadi ia menggengam tangannya terlalu erat.
“Aku tidak tahu,” kata Min Hyuk dengan ekspresi bingung.
“Apa? Terus kenapa tadi kamu bawa aku ke sini? Mendingan aku balik lagi ke tempat Yong Jae, aku rasa dia masih nungguin aku,” kata Soo Young segera berbalik dan beranjak pergi meninggalkan Min Hyuk.
Gajima3!” teriak Min Hyuk membuat Soo Young menghentikan langkahnya.
“Kenapa lagi?” tanya Soo Young dengan kesal sambil membalikkan badannya ke arah Min Hyuk.
“Yong Jae mau nembak kamu? Apa kamu bakal nerima dia?” tanya Min Hyuk mengabaikan pertanyaan Soo Young.
Soo Young terdiam sebentar karena merasa bingung. Lalu kemudian ia balik bertanya kepada Min Hyuk, ”Memangnya kenapa kalau aku nerima dia?”
Min Hyuk terdiam beberapa saat, sebenarnya ia memang tidak berhak melarang Soo Young untuk dekat dengan siapapun. Ia hanya menghela nafas karena tidak tahu harus menjawab apa.
Geuraedo saranghae4. Aku nggak bisa berhenti mikirin kamu,” kata Min Hyuk akhirnya memutuskan untuk mengakui perasaannya.
“Lalu kenapa selama ini kamu terus menghindari aku?” tanya Soo Young masih merasa tidak puas dengan jawaban Min Hyuk.
“Terus aku mesti gimana? Tiap kali melihatmu aku merasa kecewa dan sakit hati. Aku pikir saat itu kamu juga menyukaiku, tapi ternyata aku salah. Aku nggak sanggup kalo harus berdiri di sampingmu hanya sebagai teman karena aku tahu aku berharap lebih dari itu.” kata Min Hyuk mencurahkan semua perasaannya.
“Maaf, aku nggak ada maksud seperti itu,” kata Soo Young merasa bersalah.
“Apa kamu juga bakal melakukan hal yang sama pada Yong Jae? Memberinya harapan kemudian mencampakkannya?” kata Min Hyuk tidak menyadari kata-katanya terdengar sinis.
“Aku nggak akan melakukan itu pada Yong Jae,” kata Soo Young tersenyum sedih mendengar tuduhan seperti itu dari mulut Min Hyuk.
“Apa kamu mau nerima dia?” tanya Min Hyuk mencoba bersikap tenang meskipun hatinya mulai terasa sesak.
Soo Young hanya menggeleng sambil tersenyum, “Aku nggak perlu nolak atau nerima dia, karena dia nggak akan nembak aku.”
“Aku minta tolong sama dia, gimana caranya supaya kamu nggak menghindari aku lagi. Aku nggak nyangka dia bakal ngelakuin sejauh ini. Tapi kayaknya dia berhasil, akhirnya kamu ngomongin semuanya,” Soo Young mencoba mnjelaskan begitu melihat ekspresi Min Hyuk yang kebingungan.
Min Hyuk terdiam sesaat. Ia menyesali ucapannya tadi, ”Maaf kalau selama ini aku terlalu pengecut dan selalu berusaha menghindar. Apa sekarang kita masih bisa jadi teman dekat kayak dulu lagi?” tanya Min Hyuk agak ragu dengan pertanyannya sendiri.
Babo5. Sebenarnya dulu aku nolak kamu bukan gara-gara aku nggak suka sama kamu. Aku ngerasa malu dan kecewa gara-gara kamu ngajakin temen-temen cowokmu. Aku pikir kamu bakal nyatain perasaanmu saat kita berduaan aja. Tapi bahkan setelah aku kasih jawaban kayak gitu, kamu sama sekali nggak coba buat manggil atau ngejar aku. Waktu aku mau minta maaf dan ngejelasin semuanya kamu terus menghindar,” kata Soo Young menjelaskan semuanya panjang lebar.
Min Hyuk terpana mendengar penjelasan Soo Young. Ia tersenyum-senyum sendiri menyadari kebodohannya selama ini. Sudah saatnya ia mengakhiri semua itu.
“Nae yeoja chinguga dwae jullae1?”tanya Min Hyuk sekali lagi dengan percaya diri. Ia merasa yakin kali ini jawabannya akan berbeda.
Soo Young terdiam sesaat. Ia menatap Min Hyuk, kemudian mengangguk sambil tersenyum malu.
Babo5,” kata Soo Young mencoba menghilangkan suasana canggung di antara mereka. Mereka berdua tertawa lepas, merasa bahagia sekaligus geli menyadari kebodohan mereka selama ini.
~o0O0o~
Glosarium: 
1 Maukah kamu menjadi pacarku?
2 Tidak 
3 Jangan pergi 
4 Aku masih mencintaimu
5 Bodoh 
Image Source: We Heart It

 

Mio's Garden Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template